“...Berkali-kali dia
merengkuhku, mengusap air mataku yang jatuh. Sedang aku tetap meraung-raung
mencoba protes terhadap apa yang terjadi dengan hubungan kami. Dia tetap
tenang, mengecup keningku, mataku, pipiku, bibirku. Dia adalah satu-satunya
lelakiku dan kini dia bukan lagi milikku. Aku tetap menangis menerima kenyataan
ini, aku tau diapun berat melepaskan aku. Aku lihat matanya sembab dan berair.
Aku memeluk dan menciumnya seakan tak mau lepas dan bertanya-tanya kenapa ini
bisa terjadi Zee?...”
“...Kamu egois Jenn,
cobalah diam saat keadaan buruk seperti ini. Aku tau yang terbaik untuk
kita...” suaranya melemah, melebur bersama aliran sungai di sebelah kami...
“...Lantas? Bagaimana
dengan perkawinan kita? Apa aku harus mencari pengganti mempelai pria saat kau
tak datang?” nadaku sesenggukan dan semakin kueratkan pelukanku...
“...Lalu suara Zeedan
menghilang, tampak tubuhnya hitam. Menjauh. Aku mencoba meraihnya, namun tak
sampai. Ku panggil dia berulang kali, suaraku hanya menggema. Entah. Dia
lenyap. Tiba-tiba tubuhku menjadi panas dingin dan menggigil. Aku mendesis
desis seperti ular. Keringatku bercucuran mengalir melewati pelipis, menyatu
dengan air mataku. Kejam...”
“Papah, tolong panggilkan dokter,
Jenny sakit!” teriak mamahku panik.
“Jenny sayang, Jenny dengar suara
mamah?” tangan kirinya menepuk-nepuk pipiku dan tangan kanannya mengusap-usap
rambut panjangku.
Aku ingin sekali menjawab mamahku
dan berkata aku tidak apa apa. Tapi tubuhku terasa lemas, mulutku tak dapat
kugerakkan, mataku tak dapat terbuka. Aku dapat mendengar semua yang ada di
sekelilingku, hanya mendengar..... (Aji-Jung)
.... Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar